“AH TERNYATA....”
Sekarang saya tengah duduk
di teras rumah, memandang langit, dengan sebungkus rokok dan secangkir kopi. Hati
saya kini gusar, badan saya gemetar dengan air muka yang datar. Akhir-akhir ini
saya seperti mayat hidup, tenggorokan yang merah memar membengkak, luka sobek
cukup besar di sudut bibir yang tak kunjung mengering, memperihatkan gigi
graham yang mulai menghitam dan bolong di sana sini serta darah yang bercucuran
keluar dari bawah lidah yang juga luka bernanah, sehingga menyulitkan saya
untuk makan. Dan akhirnya hanya rokok dan kopilah yang menjadi santapan saya
setiap hari.
Lima menit yang lalu saya masih jalan-jalan di
sekitar komplek perumahan. Saya heran dengan tatapan orang-orang kepada saya, mereka
seperti mencibir saya, mereka seperti memandang saya dengan tatapan yang jijik
dan penuh ketakutan.
***
Setelah beberapa menit
berjalan tak tahu arah, saya melihat bola menggelinding di dekat kaki saya. Tak
lama datang seorang anak barlari. Ketika saya menoleh, seketika itu pula dia
berhenti dan sedikit melangkah ke belakang. “MAMAAAAAAAAAAAH~ ADA
ZOMBIIIIIIIIIIIIIIIIE, MAMAH TOLONG ADA ZOMBIE MAMAAAAAAAAAH” Anak itu menangis
dan berteriak ketakutan melihat saya, mamahnya keluar. Melihat saya sebentar,
lalu menggendong anaknya pergi tanpa menghiraukan bola milik anaknya yang ada
di tangan saya. Hati saya bingung apa semenakutkan itu diri saya, apa benar
saya ini zombie?
Kembali saya melanjutkan
perjalanan dengan gontai dan pikiran yang berkecamuk karena perlakuan
orang-orang kepada saya, yang melihat dan menganggap saya seperti zombie, si
mayat hidup. Tiba-tiba dari arah belakang saya merasakan ada yang melempari
saya dengan kerikil. “Itu dia zombienya, ayo lempari dia ayo......” itukan anak
yang menangis tadi, dia membawa teman-temannya dan meneriaki saya zombie dan
melempari saya dengan kerikil “ayo bunuh dia! zombie bermulut aneh, bau lagi. Ayo
bunuh dia...” ucap anak yang lain. “SAYA BUKAN ZOMBIIIIIIIIIIE, SAYA BUKAN
MAYAT HIDUP! SAYA MASIH HIDUP!” Saya berlari secepat mungkin menuju rumah karena
muak dengan semua ini, saya tidak ingin diteriaki zombie saya ingin hidup
normal seperti yang lain, saya tak punya teman, semua orang menjauhi saya, semua
orang takut dekat-dekat denga saya.
***
Jengah bila ingat hal itu,
lantas saya meminum kopi. “AAAWWW, sialan!” saya menyemburkan kopi yang saya
minum karena mengenai luka di mulut saya. Dan ternyata semburan kopi itu
mengenai badan kucing yang tengah lewat di depan saya. Seketika itu badan si
kucing menjadi berubah, rambutnya rontok, kulitnya melepuh lebam merah, tatapan
matanya menjadi tajam menakutkan dengan mulut yang menganga dan air liur yang
bercucuran. “ARGHHHHHH TIDAAAAAAAAAK~ SAYA BENAR-BENAR ZOMBIE, KUCING ITU TERINFEKSI
VIRUS. TIDAAAAAAAAAAAK” Aku berlari ketakutan daaaaaaaan
*Bruk* “Adah sakit banget
ini, sialan ternyata cuma mimpi” aku terjatuh dari kasur dan ternyata semua ini
cuma mimpi, aku meraba wajahku “ah syukurlah tidak ada luka” Saya mengambil
cermin untuk memastikan wajah saya baik-baik saja. Tapi apa ini? Wajah saya
seperti di mimpi itu. Tidak! Tidak! Tidak! “MAMAAAAAAAAAAAH SAYA MENJADI
ZOMBIE” Aku berlari keluar kamar mencari mamah, tapi tak ada siapa-siapa, rumah
sangat sepi. Cepat-cepat aku mengambil kunci motor dan pergi ke klinik Dokter
terdekat.
“Hahaha kamu ini ada-ada
saja dek. Lihat, ini Cuma cat face painting. Mungkin ada yang menggambar ini
saat kamu sedang tidur. Tapi memang benar, orang yang suka merokok besar
kemungkinan akan terkena penyakit kanker mulut atau Oral Cancer dengan gejala seperti di mimpi kamu itu. Oral Cancer dapat berkembang dalam
setiap bagian dari rongga mulut atau ofafaring dan menyebar melalui sistem
limfatik. Olehkarena itu pula sel-sel kanker menyebar ke tenggorokan dan
paru-paru. Dan ini bukan kanker paru-paru.” Ucap dokter sambil terkekeh mendengar
cerita saya.
Saya harus berterimakasih
kepada adik saya yang telah menggambar wajah saya dengan karakter zombie,
ketika sedang tidur. Akibat kejadian ini saya menjadi sadar bahwa rokok itu
memang sangat berbahaya bagi tubuh.